dalam suatu waktu

Suatu ketika lelaki datang dengan segelas minuman. Ketika itu perempuan meladeni lelaki dengan sebuah kewajaran. Seketika itu mereka berbicara dan bercanda. Seketika itu mereka tersenyum dan menanti malam berikutnya.

Malam itu, mereka menelusuri jalan ibukota untuk menyimpan sebuah senyum didalam alam bawah sadar.

Malam berikutnya mereka bertemu. Tidak bertatap muka. Karena waktu dan jarak didalam kota yang tidak memungkinkan. Mereka bertemu melalui jaringan media sosial. Mereka bercanda melaui jaringan komunikasi seluler. Mereka berbicara untuk merencanakan tatap muka.

Pertemuan demi pertemuan untuk bertatap muka terjadi. Untuk melihat sebuah karya manusia dalam layar lebar. Untuk mencicipi kaya rasa kuliner di sebuah restoran ataupun menikmati campuran rasa minuman di berbagai bar. Pertemuan terjadi walau hanya untuk menikmati percakapan sederhana dan secangkir kopi serta sepiring kue.

Mereka tertawa. Mereka bertengkar. Mereka berdiskusi. Mereka bersolusi.

Semuanya berjalan dengan semestinya. Sampai satu menyadari bahwa rutinitas sudah tidak menjadi rutinitas. Satu menyadari bahwa rutinitas sudah tidak lagi menjadi daya tarik. Satu mencoba untuk merubahnya dan memberikan plot agar menarik kembali. Yang lainnya merasa terlalu berlebihan dan memutuskan untuk tidak menjalani rutinitas. Perempuan kembali dengan rima kehidupannya seperti dahulu. Lelaki kembali dengan alur rutinitasnya seperti dahulu.

~WA~

H E R

I am called with many, but to her it’s first. Then there were two and three. Who would’ve thought that we were breathing the same air, digging the same hole, facing the same wall and gazing at the same sky. After the rainy season, we’re always waiting for the jasmine tree to bloom where we would sit by the window. Blooming or not, it had never been an issue. Because she would tell us to bring the chair back, clean our crumbs, and sweep the floor. We didn’t mind. We loved it. We were happy.

She was a porcelain. Made of china bone. But being forged with titanium inside. She had no doubts nor hesitation to choose color to paint. She had no doubts nor hesitation to look at the palette and trace the colors. She had no doubts nor hesitation to share her findings to her threes. She had no doubts nor hesitation to be imminent with her threes. She had no doubts nor hesitation to have repetition to remind them about their existence.

Colors to threes was the reason of their existence nowadays. They chose their colors. Carefully. Perfectly. It may not seem like rainbow, but for them it was. Although sometimes She would draw them back to their roots, to her color which she had prepared for them with her titanium walls.

To Her, they are hers with all her colors. Needed to be protected in her walls. To them, She was their savior of their future. She and Threes would separate and unite. Seeing eye to eye and from each sides were not their strongest point. But they knew, that they wouldn’t be a thing without each.

~WA~

 

hampir 4 jam

03.35PM:
‘Maaf, sudah lama saya tidak menghubungimu. Kehidupan saya tenggelam dengan tugas-tugas ini.’

‘Kamu baik-baik saja? Apa kabarmu?’

‘Masih ada beberapa tugas, tetapi setelah itu saya bisa istirahat sejenak dari tugas kuliah. Walau hanya sejenak, lumayanlah.’

Pesan – pesan singkat itu terlihat notifikasinya dilayar telepon seluler saya, tetapi ragu untuk menjawabnya. Selain bingung mau menjawab apa, saya juga sedang ditengah sebuah pertemuan keluarga.

4.55PM:
‘Hey, saya baik-baik saja. Sedikit sibuk, tetapi masih bisa dihandle.’

‘Hahahaaa, tidak apa-apa, saya mengerti. Bukan S2 namanya, kalau tidak menenggelamkan waktu dan otak.’

5.00PM:
‘LOL.’

‘Kamu benar. Ada hikmahnya. Ada hikmahnya.’

‘Kemarin saya baru selesai ujian. Masih ada beberapa tugas lagi yang menunggu. Kemarin saja selesai jam setengah dua pagi. Kemudian jam enam pagi, saya harus mulai lagi. Kan, sekali lagi kamu benar. Harus menenggelamkan saya dan otak.’

05.20PM:
‘Hahahhaa…tetapi setidaknya kamu masih bisa tertawa pada lelucon S2 saya.’

05.22PM:
‘Kalau tidak tertawa, pasti saya menangis. LOL.’

05.35PM:
‘Jangan khawatir, saya punya sekotak tisue.’

05.36PM:
‘Saya tau kegunaan lain dari tisue.’

05.40PM:
‘Keringat? Cheeky.’

05.40PM:
‘LOL. Saya tertawa lagi.’

05.49PM:
‘Kali ini saya akan kirim tagihan dari terapi tertawa.’

05.49PM:
‘Kirim saja. Karena sekarang saya harus kembali belajar.’

‘Be good.’

‘Dalam seminggu, walau hanya sejenak, saya butuh lebih dari sekedar terapi tertawa melalui text.’

08.00PM:
‘Sekarang saya hanya bisa memberi itu. Dan tidak lebih dari itu nantinya.’

08.00PM:
(status: sedang menulis)

08.15PM:
‘Baiklah.’

Dia lulus. Akhirnya.

f a t e

Sometimes fate is like a small sandstorm that keeps changing directions. You change direction but the sandstorm chases you. You turn again, but the storm adjusts. Over and over you play this out, like some ominous dance with death just before dawn. Why? Because this storm isn’t something that blew in from far away, something that has nothing to do with you. This storm is you. Something inside of you. So all you can do is give in to it, step right inside the storm, closing your eyes and plugging up your ears so the sand doesn’t get in, and walk through it, step by step. There’s no sun there, no moon, no direction, no sense of time. Just fine white sand swirling up into the sky like pulverized bones. That’s the kind of sandstorm you need to imagine.

An you really will have to make it through that violent, metaphysical, symbolic storm. No matter how metaphysical or symbolic it might be, make no mistake about it: it will cut through flesh like a thousand razor blades. People will bleed there, and you will bleed too. Hot, red blood. You’ll catch that blood in your hands, your own blood and the blood of others.

And once the storm is over you won’t remember how you made it through, how you managed to survive. You won’t even be sure, in fact, whether the storm is really over. But one thing is certain. When you come out of the storm you won’t be the same person who walked in. That’s what this storm’s all about.

Kafka on the shore ~ Haruki Murakami