Mangkuk Kayu

Merupakan sebuah cerita yang baru saja saya baca dan tidak pernah lepas dari kepala saya sampai detik ini. Semoga mempunyai efek yang sama seperti yang terjadi pada saya.

*******************************************************************************************************************************

Seorang kakek tua yang tinggal bersama dengan anak, menantu, serta cucunya yang baru ber-usia 4 tahun. Karena usia yang telah lanjut, kakek tersebut tangannya selalu gemeteran, langkahnya juga tidak stabil. Tidak seperti saat ia muda dulu. Kalau berjalan, dia harus selalu berpegangan dengan tongkat kayunya dan terkadang harus berpegangan ke dinding. Tidak jarang, kakek tersebut secara tidak sengaja memecahkan vas ataupun barang-barang yang terdapat disekelilingnya.

Karena usia yang telah lanjut pula, si kakek selalu menumpahkan makanannya ketika makan. Susu atau air ketika minum. Tidak jarang pula menjatuhkan sendok atau garpu yang sedang ia pegang ketika menyantap makanan. Selalu membuat berantakan bahkan kotor diruang makan.

Karena tidak sabar, si anak dan menantunya merasa amat terganggu dengan situasi tersebut. Mereka akhirnya menyiapkan sebuah meja dan kursi kayu kecil untuk si kakek, diujung ruang makan. Tidak lupa tempat makan serta gelas kayu untuk orang lanjut usia tersebut.

Jarak meja makan dengan meja kayu yang ia duduki tidak jauh.. hanya berjarak 4 langkah. Tapi si kakek tersebut menyantap makanannya sendiri. Tidak dimeja makan bersama dengan anak, menantu dan cucunya. Bahkan kalau anaknya sedang melihat kearah kakek tersebut, sekilas terlihat air matanya. Pembicaraan yang terjadi antara si kakek dan anaknya tersebut tidak lain dari sindiran, ketika ia menjatuhkan mangkuk, sendok, ataupun gelas.

Tanpa disadari, cucu si kakek memperhatikan tanpa geming.

Suatu hari, anak berusia 4 tahun tersebut bermain dengan beberapa papan kayu usang yang ia temukan digudang. Si ayah mendekat dan bertanya kepadanya, “Kamu sedang membuat apa Nak?”. Si anak menjawab, “Aku sedang membuat mangkuk kayu untuk makan papa dan mama kalau aku sudah besar nanti. Aku juga mau membuat gelasnya.”

Tanpa sadar, si ayah menangis. Semenjak itu, si kakek tidak lagi makan sendirian dimeja dan kursi kayu di ujung ruang makan yang telah disiapkan untuknya. Ia tidak lagi menggunakan mangkuk dan gelas kayu yang telah dibuat khusus untuknya. Dan entah kenapa, si anak dan menantunya juga tidak pernah lagi memberikan sindiran atas tumpahan makanan atau air atau susu, jatuhnya sendok atau garpu si kakek.

Si kakek pun tidak pernah lagi terlihat meneteskan air matanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s