‘Love’ Recipe

Senin, hampir jam 1 pagi..

Baru saja saya menaruh buku masak Bara Patiradjawane. Konsep cooking book yang menurut saya fun. Mulai dari diksi, scrap sampai yang paling penting, resepnya. Mudah, sederhana, dan yg pasti (sepertinya) enak.

Sekilas memang buku ini mengingatkan saya kepada Jamie Ollivier. Dengan gaya dan bahasa simple, seolah-olah mengatakan kepada kita kalau memasak itu tidak sesulit yang dibayangkan. Hanya membutuhkan kemauan serta (agak.. basi yaa..) cinta. Entah cinta terhadap memasak ataupun yang dimasakin. Dan sepertinya itu juga yang selalu ditekankan oleh Mas Bara.

Terus terang, saya termasuk orang yang moody untuk masalah masak-memasak. Saya lebih suka masak (baca: menyuruh si mbak untuk masakin makanan keinginan saya dengan resep ‘ala’ saya) makanan yang simple alias sederhana. Padahal kalau memang malaikat niat saya sedang menghampiri, serumit apapun resep tersebut, pasti akan saya buat. Walau gagal awalnya, biasanya percobaan ke-3 rasanya sudah jauh lebih baik. Lebih manusiawi-lah untuk dimakan (percaya deh, tidak separah itu sih. Gaya bahasa saya saja agak berlebihan).

Saya mungkin bukan seorang chèf handal atau koki piawai layaknya Mas Bara ataupun Rudy Choirudin. Tetapi saya punya seseorang yang selalu setia mengomentari dan memberikan masukan untuk masakan saya. Orang itu tidak lain adalah ibu saya. Beliau memang tidak pernah memuji masakan saya, tetapi tidak pernah tidak memakan masakan saya. Yang pasti saya tahu kapan makanan saya terasa enak atau tidak bagi beliau.

Ibu saya selalu tahu perasaan saya melalui masakan saya. Yang pasti kalau saya sedang moody, tiba2 beliau berkomentar ‘coba kalau masaknya pakai senyum..’. Agak kesal awalnya, tetapi setelahnya saya menertawakan diri saya sendiri. Iya juga yaaa.. Kalau saya memasak dengan senyum pasti bumbunya tidak salah.

Seperti yang tertuang dalam Prakata dibukunya Mas Bara, resep paling utama dalam memasak adalah cinta. Tidak ada resep yang lebih hebat dari itu. Ibu saya pun berkata demikian. Dan tambahan secara logika versi beliau adalah kalau kita memasak dengan perasaan marah atau kesal kita pasti tidak akan konsentrasi pada masakan kita. Jadi bumbu yang sehrsnya tidak kita masukkan, bisa dimasukkan. Begitu pula sebaliknya.

Awalnya saya tidak terlalu peduli dengan ‘konsep’ memasak beliau. Menurut saya kalau kita masak sesuai resep, pasti sempurna kok. Tapi sekali lagi, pernyataan ‘bumbu cinta’ menghampiri saya.

Kali ini keluar dari mulut salah seorang sahabat saya. Harus saya akui, selain ibu, orang yang saya anggap jago masak adalah sahabat yang satu ini. Dan sekarang sekali lagi saya membaca pernyataan yang sama.

‘Apapun jika dilakukan dengan senyum, hasilnya pasti memuaskan. Tidak hanya untuk diri sendir, tetapi juga orang lain.’ Begitu nasihat yang tidak henti – hentinya diberikan oleh Ibu kepada saya. Membutuhkan waktu yang amat lama untuk mempelajari arti hal kecil dengan dampak besar tersebut. Sekarang bukan berarti saya jadi suka memasak, tetapi setidaknya saya memasak memang karena saya ingin memasak. Menjadi lebih baik rasanya, menurut ibu saya, karena saya ingin yang memakannya menikmati masakan itu. Sebagaimana saya menikmati membuatnya.

August 6, 2009
*Ps: Love u mom. U’re the best on inspiration. O, ya.. This note has been on my phone since Monday. That’s why the first line is Monday.. ;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s