sahabat saya

Kalau saya mengajak anda berhitung sekarang, kira-kira berapa orang teman yang anda miliki saat ini? Pasti anda langsung mencoba menghitung daftar teman anda dari Facebook friend list ataupun yang tersimpan didalam memori handphone anda. Pasti jumlahnya ratusan. Bahkan ada beberapa teman saya yang memiliki teman lebih dari 1000 orang di facebook-nya. Saya pun memiliki lebih dari 500 orang teman di facebook friend list saya. Bagi saya, berteman dengan banyak orang itu menyenangkan. Di umur saya yang middle-up 20’s, memiliki banyak teman berarti tidak hanya sekedar untuk memenuhi memori hand phone, tetapi juga untuk networking. Dan juga untuk teman hura-hura, kalau saya sedang tidak mood.

Tetapi kalau ruang lingkup pertemanan ini diperkecil, coba anda lihat kembali facebook atau hand phone anda. Berapa orang sahabat yang anda miliki?

Bagi saya, sahabat bukan hanya seorang teman yang paling dekat dengan saya. Tetapi teman yang benar-benar mengetahui saya luar dalam dan sebaliknya. Kalau bisa saya hitung dengan jari, saya hanya memiliki 4 orang sahabat. 1 orang selalu bersama saya sedari SMP, 2 orang adalah masa SMA dan yg terakhir kuliah. Mereka semua amat mengenal saya, bahkan mungkin lebih dari mantan-mantan pacar saya.

Uniknya saya dan para sahabat ini, jarang sekali bertemu. Tetapi kami tidak pernah ketinggalan untuk menginformasikan satu sama lain mengenai kegiatan ataupun hal baru ataupun hal-hal yang sedang terjadi didalam kehidupan kami. Salah satu sahabat saya pernah berkata, walaupun kita berbeda negara, tapi kok rasanya dekaaaaat sekali. Entah kenapa saya pun merasakan demikian. Sedih memang, jika salah satu sahabat saya sedang mengalami musibah atau hal yang tidak menyenangkan, tetapi saya tidak bisa berada disisinya, dikarenakan lokasi kami yang berjauhan (bahkan 2 orang sahabat saya tidak tinggal di Indonesia). Bukan untuk apa-apa, tetapi hanya untuk memeluk atau mendengarkannya. Tapi kami tidak menyesali keberadaan kami lokasi kami yang amat jauh. Karena setiap saya membutuhkan mereka dan sebaliknya, kami selalu ada untuk satu sama lain.

Walaupun hanya untuk mendengarkan. Walaupun pendapat mereka terkadang menyakitkan. Walaupun saya tidak menerima pendapat mereka dan lebih menjalankan pendapat sendiri, mereka tidak pernah bosan untuk mendengarkan cerita saya yang sama. Mereka tidak pernah bosan mendengarkan lelucon saya yang terkadang tidak lucu. Mereka juga tidak pernah bosan untuk memberikan pendapat mereka tentang hal – hal yang sedang terjadi kepada saya. Dan saya tidak pernah bosan untuk mendengarkan pendapat mereka.

The best thing about them is they take me as I am. Accepting me for just the way I am. Tidak pernah berhenti saya bersyukur, karena mendapatkan sahabat-sahabat seperti mereka.

Selasa, 20 Oktober 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s