to click or not to click

Sudah hampir 1 minggu ini, saya ditelpon oleh beberapa teman lama untuk bertemu. Mengingat terakhir kali saya bertemu dengan beberapa teman tersebut sudah bisa terhitung tahunan, akhirnya kami (lebih tepatnya saya) mengatur beberapa jadwal pertemuan dengan beberapa teman lama tersebut. Awalnya saya tidak begitu memperhatikannya, tetapi setelah menjalankan janji temu dengan teman lama yang ke-3, baru tersadar akan sesuatu hal. Beberapa teman lama saya yang mengajak saya bertemu semuanya telah menikah.

Menyadari hal tersebut, sebagai wanita lajang, tiba – tiba saja saya merasa terintimidasi. Ada apa ini? Untung saja, teman lama untuk janji temu ke-3 ini (karena saya masih harus melewati 3 janji temu lagi dengan teman lama yang, sekali lagi, telah menikah) tidak merasakan kecanggungan saya. Tetapi kembali lagi, teman saya bercerita mengenai rumah tangganya. Dalam pembicaraan wanita antar wanita kami (atau lebih tepatnya, dalam cerita keluhan teman saya mengenai kehidupan rumah tangganya), saya tidak tahan untuk tidak bertanya mengenai beberapa pertanyaan yang menurut saya sangat sederhana tetapi amat susah untuk dielaborasikan. Bukannya ingin bermaksud tidak sopan, tetapi saya langsung memotong pembicaraan teman saya dan bertanya ‘kenapa dulu memutuskan menikah dengan si suami?’. Teman saya terdiam sejenak. Kemudian dia menjawab, ‘karena memang sudah seharusnya.’. Saya semakin tidak mengerti.

Dalam perjalanan pulang, saya langsung melihat phone book hand phone saya dan mencari nama teman – teman saya yang sudah menikah. Saya mengirimkan sms dengan pertanyaan yang sama, ‘mengapa menikah?’, ‘mengapa orang tersebut?’. Seperti yang sudah saya duga, jawaban yang muncul amat beragam dan akhirnya saya memiliki beberapa janji lagi dengan teman-teman saya.

Setelah bertemu dengan teman-teman saya, saya tidak terlalu mendapatkan jawaban yang tepat. Bahkan tambahan pertanyaan. Hampir semua teman saya mengatakan karena sudah ‘click’ dengan pasangannya. Hmmm, menarik. ‘Click’. Kata baru untuk saya.

Saya dulu berfikir, kalau sudah merasa nyaman dengan seseorang, maka itu tandanya saya sudah harus ketahap berikutnya. Menurut teman saya, mungkin itu versi ‘click’-nya saya. Karena menurut teman saya, ‘click’ itu memiliki arti yang sangat luas. Karena menikah amat berbeda dengan masa pacaran. Amat sangat jauh berbeda. Tidak cuma menurunkan ego, tetapi dibutuhkan kesabaran serta keikhlasan yang teramat dalam untuk keduanya. Kedua belah pihak harus bisa menerima kekurangan serta kelebihan masing-masing. Ikhlas? Pernyataan teman (kebetulan seorang wanita) didukung oleh salah seorang teman lagi, kali ini adalah seorang pria. Dia lebih datar lagi. Pertanyaan saya dengan mudah dijawab, ‘karena istri gue islam dan mau diimamin sama gue’. Ada seorang teman saya menanyakan sesuatu kepada saya, ‘kalau elo keluar rumah tanpa izin suami, dan suami lo marahin elo, elo rela ga?’. Lantang saya menjawab, ‘Rela.’. Karena ibu saya mendidik demikian dan itu sudah merupakan kodrat saya sebagai wanita, apalagi jikalau dilihat dari sisi agama. Teman saya berkomentar sederhana, ‘itu namanya ikhlas.’. Saya pun mengerti.

Beberapa teman saya juga memiliki pendapat yang sama. Merasa bahwa pasangan mereka sekarang ini adalah pasangan yang tepat ketika memutuskan untuk menikahinya. Ada yang memang melewati proses hubungan yang amat lamaaaaaa sekali, ada juga yang hanya beberapa kali bertemu kemudian merasakan ‘click’ tersebut. Kalau menurut teman-teman saya yang notabene wanita, perasaan ‘click’ itu timbul dengan sendirinya. Tidak dapat dijabarkan, dijelaskan bahkan dielaborasikan dengan kata-kata apapun. Sebuah keyakinan dari dalam hati (dan Tuhan tentunya). Satu hal yang mereka katakan, badai sebesar apapun, karena mereka sudah yakin dan (kembali lagi) ‘click’, dilewati dengan nyaman. Agak muluk-muluk memang kesannya, tapi itu kenyataan yang mereka katakan.

Ada juga beberapa teman saya yang menjawab, karena sudah terlalu lama pacaran, jadi menikah adalah suatu keharusan. Mmm, saya tidak akan berkomentar banyak mengenai hal ini. Tetapi sebagain besar teman-teman saya yang menikah dengan alasan tersebut telah berpisah, akan berpisah, dan yang lebih tragisnya lagi ada yang masih bersatu tetapi seakan-akan terpisah. Mereka sudah tidak dapat berkomunikasi dan bertahan karena, ANAK. Ketika saya tanya mengenai komitmen pernikahan, mereka cuma berkata ‘itu hanya terjadi di awal pernikahan’. Hmmm..

Saya pernah takut untuk menikah sebelumnya. Mungkin karena latar belakang keluarga dan kebanyakan keluarga disekeliling saya. Jangankan ibu saya, teman-teman terdekat serta sahabat-sahabat saya sering sekali menasihati bahwa menikah tidaklah seseram yang saya pikirkan. Masalah pasti akan selalu ada dan datang bahkan berkembang. Tergantung bagaimana saya dan pasangan menyingkapinya. Itu yang menjadi masalah selanjutnya, karena saya bukanlah tipikal wanita yang mudah untuk jatuh cinta. Karena terus terang, setiap hubungan yang saya jalankan bukan berdasarkan perasaan suka, melainkan kenyamanan untuk berbicara serta menghabiskan waktu dengan orang tersebut.

Tetapi setelah melalui hubungan singkat, yang menurut saya agak sedikit ‘aneh’, beberapa waktu lalu membuat saya berfikir lebih jauh. Saya ingat mantan pernah bertanya mengenai pencarian saya dalam hidup. Untuk apa saya hidup. Entah apakah ini namanya proses pendewasaan atau saya akan melangkah kedalam level kehidupan selanjutnya (dan tampaknya saya harus berterima kasih kepada mantan saya tersebut, walaupun hubungan kami agak ‘aneh’), tetapi saya mulai berfikir untuk settling down alias menikah. Karena akan ada sesuatu yang berharga yang akan membuat saya hidup. Akan ada alasan yang jelas bagi saya untuk bekerja (selain membahagiakan kedua orang tua saya lho). Bukan berarti saya akan mencarinya secara grasak grusuk, setidaknya saya bisa memulai untuk membangun masa depan sendiri. Tentunya dengan orang yang menurut saya ‘click’. Karena akan membangun keyakinan saya dengan sendirinya. Karena saya yakin, dengan keyakinan yang terbangun, keikhlasan saya juga akan terbentuk.

@noon… 12pm.

Ps: Dearest friends, thank you for all the sharing words, advices, thoughts, etc… not only my married friends, but also single ones (specially a single friend whom I shared a lot about a ‘click’).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s