sebuah kencan dengan ayah

Sebuah kencan dengan ayah, bukanlah sesuatu yang kudamba. Bukan juga yang kunanti. Tidak pernah kuharapkan untuk duduk berdua dengan ayah dan bercerita. Jangankan bercerita, untuk meng-iyakan ajakan ayah pergi makan malam saja aku enggan. Ngapain? Toh, dia juga sudah meninggalkanku. Dan sekarang mau berbaik hati kepadaku? Nanti dulu. Ada beberapa pintu yang harus diketuk. Salah satunya pintu ibu.

Tapi hari ini ku-iya-kan. Akhirnya aku berkencan dengan ayah. Disebuah warung kopi. Karena ayah tahu aku sangat menyukai kopi. Karena ayah tahu aku tidak akan mau ketempat yang ia mau. Karena ayah tahu aku akan menolak untuk pergi makan malam dengannya bila tidak menuruti kemauanku. Dan ayah terlalu merindukanku.

Aku menjemput ayah di tempat biasa. Di sebuah halte bus. Ayah tersenyum ketika melihat mobilku menepi untuk menghampirinya. Seperti biasa, ia tampak lusuh. Badannya masih tegap, hanya saja tidak rapih. Dulu ayah selalu rapih. Dengan rambut klimis dan kemeja necis. Wajah ayah pun selalu terlihat segar dan menawan walaupun ia memiliki kulit yang gelap. Tetapi itu dulu. Ketika masih menjadi suami ibu.

‘Apa kabar Nduk?’ tanyanya ketika sudah duduk didalam mobil.

‘Baik.’ Jawabku singkat.

Selama perjalanan, kami hanya terdiam. Tidak mencari bahan pembicaraan. Karena ayah tahu, aku tidak suka berbasa basi dengannya. Hanya dengannya. Ayah tahu setiap percakapan yang dimulai denganku akan selalu berakhir dengan sebuah pertengkaran dengannya. Hanya dengannya. Maka kami, aku dan ayah, memutuskan untuk hanya terdiam.

Kami berusaha untuk menjaga hubungan yang sudah membaik ini. Hanya menjaga, tidak ingin membuatnya lebih baik lagi. Mungkin akan menjadi lebih baik. Mungkin juga tidak. Tapi entahlah, hanya Tuhan yang tahu. Aku dan Ayah bukanlah Tuhan. Maka kami tidak akan pernah tahu. Yang kami tahu hanyalah melakukan pembicaraan akan merusak semua yang telah kami jaga. Dan kami tidak ingin merusaknya.

Hampir satu jam kami berada didalam mobilku. Ibu kota yang terkenal amat macet disore hari Jum’at membuat perjalanan kami menuju warung kopi menjadi lebih lama. Lebih lama dari biasanya. Tetapi warung kopi tersebut tidak akan kemana – mana. Justru kami yang akan merambahnya. Walau harus menempuh jarak waktu yang amat lama. Suasana sore hari semakin lama semakin tenggelam dan berubah menjadi malam. Lampu sen mobil kunyalakan karena suasana diluar semakin temaram. Didalam mobil pun hanya terdengar alunan musik dari radio faforitku. Ya.. semuanya harus faforitku. Karena ini mobilku. Ayah tidak punya hak ataupun suara bahkan kekuatan untuk mengatur semua yang ada disekelilingku. Semuanya hilang bersamaan ketika ayah meninggalkan ibu. Ketika ayah meninggalkanku.

Tiba – tiba ayah mengeluarkan 5 buah permen. Salah satunya adalah permen yang kenyal dengan rasa buah. Permen kesukaanku. Dibukanya satu buah kemudian dimakan oleh ayah. Sisanya ditaruh diatas dashboard mobilku. Ayah mengambil permen kenyal rasa buah dan menawarkannya padaku. Aku menggeleng.

‘Kenapa?’ tanya ayah. ‘Kamu kan amat suka permen ini nduk.’

‘Itu kan dulu.’ Jawabku singkat.

‘Tidak ada bedanya antara dulu dan sekarang kan nduk.’

‘Ada.’

Ayah terdiam setelah mendengar jawabanku. Dia tidak ingin melanjutkan percakapan santai antara ayah dan putrinya. Salah ucap bisa fatal akibatnya. Sepertinya ayah menyadarinya. Walau dilubuk hati, aku menyesal telah menjawab demikian.

***

Akhirnya kami sampai diwarung kopi. Tempat ini selalu ramai. Walau nama warung tersebut agak sedikit aneh menurutku. Aku mencari tempat yang agak jauh dari keramaian. Yang agak temaram. Agar tidak terlihat bahwa aku dan ayah sedang berkencan.

Aku memesan secangkir kopi. Sementara ayah secangkir teh hangat. Aku memesan sepotong tiramisu. Sementara ayah hanya memakan sisa gorengan yang dibeli dari halte tempat ia menungguku. Ayah tidak suka kopi. Ayah juga tidak suka kue yang berbau eropa. Hanya suka getuk lindri serta nasi gudeg. Karena menurut ayah, ia adalah orang Jawa. Dan orang Jawa harus makan getuk lindri serta nasi gudeg.

Kami kembali terdiam. Aku sibuk mengaduk kopi hitamku dan ayah mengaduk teh hangatnya. Ayah kembali menawarkanku permen buah. Kali ini kuterima tawaran itu. Kukunyah permen kenyal rasa pisang tersebut. Ayah tersenyum.

Nduk…’

‘Ya…’

‘Apa kabar ibu?’

‘Baik.’

‘Apa kabar kamu?’

‘Saya juga baik.’

‘Ayah dengar ibu sakit. Apa benar?’

‘Iya. Tapi itu sebulan yang lalu. Sekarang ibu baik – baik saja.’

‘Ibu sakit apa?’

‘Cuma sakit kepala biasa.’

‘Boleh ayah lihat ibu.’

Aku terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak ingin ayah melihat ibu. Aku tidak ingin ayah dekat – dekat ibu. Ayah sudah menyakiti ibu. Ibu sudah bahagia. Walau tanpa ayah. Ibu punya aku dan Rasha. Kami baik – baik saja. Walau tanpa ayah.

Kuhirup kopi dari cangkir bermotif bunga yang telah disajikan oleh pelayan di warung kopi ini. Kuletakkan kembali cangkir tersebut ke atas tatakan yang juga bermotif bunga. Motif cangkir ini selaras dengan nama warung kopinya. Amor yang berarti cinta dalam bahasa Itali, dengan motif bunga pada hampir seluruh cangkirnya. Tetapi tidak selaras dengan hubunganku dan ayah.

‘Tidak. Ayah tidak boleh melihat Ibu.’ Jawabku. Singkat. Tegas. Dan lugas.

‘Kamu masih belum memaafkan ayah Nduk?’

Aku hanya terdiam memandangi wajah seorang pria berusia 56 tahun dihadapanku. Seorang pria dengan kulit amat gelap, rambut ikal berwarna hitam seperti rambutku, serta wajah yang terlihat jauh dari usia yang seharusnya. Wajah ayah sudah memiliki lipatan – lipatan. Wajah ayah yang dulunya tampan sudah tidak mempesonaku lagi. Wajahnya kini memelas. Wajahnya amat sayu. Tapi aku tidak kasihan.

‘Saya tidak tahu.’

‘Apa ayah harus berlutut Nduk? Kalau ayah harus berlutut dan meminta maaf pada putrinya seperti itu, ayah mau. Asal putrinya memaafkan ayah.’

‘Tidak perlu sedramatis itu Yah.’

Kami terdiam untuk yang kesekian kalinya. Ayah memalingkan mukanya dariku. Sekilas kulihat ayah meneteskan air mata. Ayah kini bisa meneteskan air mata. Aku tertegun. Seumur hidupku, baru satu kali aku melihat ayah meneteskan air mata. Ketika Nyai, ibunya ibuku, meninggal. Dan kini, yang kedua kali. Tapi aku tidak kasihan. Aku tidak perduli. Oh Tuhan, apakah aku terbuat dari batu?

‘Tapi ibu baik – baik saja kan, Nduk?’

‘Iya Yah. Tenang saja. Ibu baik – baik saja.’

Kali ini ayah yang menyeruput teh hangat dihadapannya. Motif cangkirnya sama denganku. Bunga.

‘Kemarin Ayah mendapat bingkisan Nduk. Sekardus rambutan. Kamu mau? Kamu kan sangat suka rambutan.’

‘Oh ya.. saya mau Yah.’ Jawabku sambil tersenyum.

‘Nanti Ayah kirimkan kerumah ya Nduk. Kamu mau mangga juga? Bude punya pohon mangga sekarang. Mangga harum  manis. Walau tidak semanis yang biasa kamu beli. Tapi buahnya nikmat.’

‘Iya Yah. Saya mau.’ Jawab saya singkat.

Ayah sudah tidak meneteskan air mata lagi. Sekarang ia tersenyum. Walaupun hanya rambutan dan mangga yang bisa ia lakukan untuk membuatku tersenyum. Tapi tampaknya ayah cukup puas.

‘Jangan lupa berikan juga pada ibu. Ibu kan juga suka mangga.’

‘Ibu sedang tidak boleh banyak makan mangga.’

‘Kenapa?’ Tanya ayah.

‘Karena dokternya berkata demikian.’ Jawabku singkat.

‘Ooo.. kalau begitu sedikit saja sisakan untuk ibu. Sampaikan juga salam ayah untuk ibu. Juga permohonan maaf Ayah untuk ibu.’

‘Iya Yah. Nanti saya sampaikan.’

Itulah pembicaraan terakhir kami pada malam itu. Sampai cairan kopi dan teh didalam masing – masing cangkir kami habis, tidak ada satu patah kata pun yang terucap lagi. Hujan turun dengan amat deras ketika kami akan pulang. Tetapi didalam mobil mulai terasa hangat, walaupun AC kunyalakan. Seperti biasa aku menurunkan ayah disebuah halte bis. Ayah tidak pernah mau kuantar sampai kedepan pintu rumahnya. Merepotkan, katanya. Atau semata ayah tidak ingin aku mengetahui dan mengenal keluarga barunya, pikirku. Tapi aku tidak ingin bertengkar terus menerus karena hal tersebut.

Setelah menurunkan ayah, aku pulang. Aku tidak sabar untuk menceritakan kepada ibu mengenai pertemuanku dengan ayah. Kalau ayah akan memberikanku rambutan dan mangga. Kalau ayah menitip salam serta permohonan maaf kepada ibu. Aku tidak sabar untuk menceritakannya esok pada ibu. Sambil membawa bunga dan air, serta membacakan yasin dan doa untuk ibu. Ibu tunggu aku besok ya.. aku punya cerita.

—Miss.Wawa, 20 Maret 2010—

4 thoughts on “sebuah kencan dengan ayah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s