Gadis Kecil dan Ipon

Gadis kecil itu masih duduk bersila ditengah taman. Hanya mengenakan baju terusan mini berwarna merah, celana dalam berwarna putih kusam, serta kaus kutang yang amat usang. Tanpa perduli orang yang berlalu lalang didepannya, gadis itu selalu tersenyum setiap kali ada orang yang memberikannya selogam ataupun dua logam uang senilai lima ratus rupiah. Senyumnya akan semakin merekah jikalau salah satu dari orang yang lewat meninggalkan lembaran uang. Berapapun angkanya. Tapi yang tidak pernah gagal membuatnya tersenyum adalah ulah si Ipon.

Ipon adalah seekor kera kecil yang selalu setia menemani gadis kecil itu duduk bersila ditengah taman. Ipon tidak pernah mengeluh walaupun harus duduk ditengah teriknya panas ataupun derasnya hujan. Ipon juga tidak pernah khawatir untuk menjadi kelaparan. Karena akan selalu ada orang lewat yang akan memberinya sekeping biskuit ataupun sekantung kecil kacang. Sebagai gantinya, Ipon akan naik sepeda dan tertawa. Kemudian membawa payung dan menggoda si gadis kecil. Sampai akhirnya gadis kecil dan Ipon menari bersama diiringi tepukan tangan dari orang – orang yang berhenti untuk melihat tingkah kedua makhluk ini. Selanjutnya topi yang sengaja diletakkan dihadapan mereka akan terisi penuh dengan uang. Baik logam maupun kertas.

Gadis kecil itu dan Ipon selalu datang dan duduk ditaman ketika matahari sudah mulai terik. Karena mereka tahu, sebentar lagi saatnya makan siang. Dan orang – orang yang memakai kemeja necis, dasi panjang, rok pinsil, sepatu hak tinggi serta membawa telepon genggam jenis terbaru akan melewati taman itu untuk makan siang. Lokasi yang tepat dan strategis untuk si gadis kecil dan Ipon, menurut Wali.

Setiap pagi, ketika orang – orang sudah tidak terlalu lalu lalang di taman tersebut, Wali mengantarkan mereka ke taman. Mengamati mereka dari jauh, hanya sekedar untuk memastikan apakah si gadis tersebut sudah duduk ditempat yang benar, mengenakan pakaian yang lusuh, sampai mengamati apakah coreng muka si gadis kecil sudah terlihat kotor atau belum. Kalau masih terasa kurang, Wali akan langsung memperbaikinya. Memperbaiki bukan untuk menjadikannya sebagai seorang gadis kecil yang cantik, tetapi memperbaiki untuk menjadikan kumuh. Kalau untuk Ipon? Sederhana. Entah sudah berapa lama Ipon tidak dimandikan. Bahkan saat pertama kali si gadis menjadi rekan kerja Ipon, satu kalipun ia tidak pernah dimandikan. Diberi pakaian hanya berupa kain perca yang dililitkan dibadan kera kecil itu.

Ketika hari menjelang sore, Wali akan kembali datang dan menjemput mereka. Sebelum membawa sigadis kedalam mobil truk dengan bak terbuka, dia selalu mengambil topi hitam yang tergeletak dihadapan si gadis. Mengambil semua isi serta menaruhnya didalam sebuah kantung plastik. Wali tidak pernah menghitung jumlahnya secara pasti saat itu. Untuk Wali, kalau didalam topi tersebut uangnya menggunung, maka ia akan tersenyum. Tetapi jika tidak, maka ia akan langsung menarik si gadis dan menyeretnya kedalam mobil truk yang sudah menunggu tidak jauh dari taman. Ipon hanya bisa teriak dan bergelantung dibadan si gadis.

Walaupun begitu si gadis kecil dan Ipon tidak pernah mengeluh. Karena kalau topi dihadapan mereka terisi penuh, pulang nanti Wali pasti akan memberikan selembar uang kertas kepada si gadis. Juga tidak lupa membelikan es lilin kesukaan si gadis dan Ipon. Tetapi jika tidak, maka cercaan, tempelengan, sampai hinaan akan mereka hadapi. Mereka berdua sebenarnya tidak mengerti arti kata – kata hinaan dan cercaan yang keluar dari mulut Wali. Hanya mereka merasakan lengkingan suara Wali sampai kehati dan membuat nyeri. Apalagi untuk si gadis. Lalu kalau tidak pulang membawa selembar kertas, ia pasti tidak akan kebagian makan malam dari sang ibu. Dan Ipon akan disuruh tidur diluar. Bukan tidur disamping si gadis, seperti kalau mereka membawa selambar uang kertas pulang untuk sang Ibu.

***

Pagi ini si gadis bangun dengan perasaan bahagia karena kemarin topi hitam yang selalu tergeletak dihadapannya terisi penuh. Penuh dengan lembaran uang kertas dan beberapa uang logam. Jadi malam kemarin Si Gadis pulang membawa selembar uang kertas sambil menikmati es lilin dengan Ipon. Si gadis langsung membasuh muka dan berjalan menuju dapur. Dia ingin sekali mandi, tetapi mengurungkan niatnya. Karena kalau dia mandi, Wali dan ibu pasti akan marah. Karena topinya tidak akan terisi penuh dengan uang. Begitu kata mereka. Jadi Si Gadis akan mandi ketika esok harinya ia tidak harus duduk di taman.

Tidak lama kemudian Wali datang menjemput dan memasukkan si gadis kedalam truk bak terbuka. Betapa terkejutnya si gadis ketika turun dari truk, bukan taman tempat ia biasa duduk yang didapati. Ini bukan taman pikirnya. Si gadis memberanikan diri untuk bertanya pada Wali mengapa ia tidak pergi ketaman seperti biasanya. Wali tidak menjawab si gadis, melainkan mengeluarkan lengkingan suara yang selalu dia keluarkan jikalau topinya tidak penuh terisi uang. Si gadis hanya terdiam. Ipon juga terdiam.

Mereka mulai menempati tempat baru mereka. Dibawah jembatan yang terdapat lampu merah. Sungguh berbeda dengan taman yang selalu ia duduki. Disini banyak debu. Orang – orang yang lewat tidak ada yang cantik ataupun tampan seperti ketika sedang duduk di taman. disini orang – orangnya kumuh seperti si gadis dan Ipon. Si gadis juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan disini. Apakah harus bernyanyi? Ataukah meminta? Kalau ditaman, ia hanya tinggal duduk dan membiarkan Ipon bertingkah. Tapi kalau disini, orang – orang yang lalu lalang dalam sebuah mobil tidak akan melihat tingkah lucu Ipon.

‘Jangan sampai tidak dapat!!’ hardik Wali.

Si gadis ingin menangis. Dia merengek untuk minta dikembalikan ketaman. Mendengar rengekan si gadis, Ipon juga ikut – ikutan merengek. Si gadis menangis dan meraung sekuatnya, sambil berharap Wali akan mengembalikan dia dan Ipon ke taman. Bukan    melainkan hardikan serta tempelengan. Orang yang berlalu lalang juga tidak ada yang iba kepada mereka. Tidak ada yang berniat untuk menolong mereka, walaupun keributan mereka membuat orang – orang yang berlalu lalang dengan mengendarai mobil melihat kearah mereka. Orang – orang yang sedang tidak mengendarai mobil pun melihat kearah mereka. Ya, mereka melihat kearah si Gadis, Ipon dan Wali.

Wali menarik Ipon dan menyeretnya untuk masuk kedalam truk. Ipon berteriak dan meronta. Si Gadis menangis dan menjerit. Wali tidak perduli dan pergi.

Sudah hampir tiga jam, Si Gadis menangis tiada henti. Sampai ia merasa capai sendiri. Si Gadis tidak mau duduk seperti waktu ditaman. Ia memutuskan untuk berjalan tanpa arah. Hanya Ipon dipikirannya,

Entah sudah berapa jauh ia berjalan, sampai akhirnya jatuh dan terkulai dipinggir trotoar. Dalam kulainya, ia melihat cahaya lampu yang semakin lama semakin remang. Didalam remang, si Gadis kembali melihat orang – orang yang berlalu lalang, ketika ia masih bersama Ipon. Orang – orang yang mengenakan baju amat bagus. Para perempuan yang cantik, yang selalu ia impikan untuk menjadi salah satu dari mereka ketika besar nanti. Para laki – laki yang tampan bak pangeran, yang tidak seperti ia lihat setiap hari didalam truk Wali ataupun disekeliling rumahnya. Ingin sekali ia bisa berdiri sekarang dan memasuki bangunan di seberang yang terlihat kecil tetapi indah itu. Sudah lama sekali, ia ingin tinggal disebuah bangunan yang dikelilingi bunga dan tatanan meja dan kursi yang rapih. Indah sekali. Gadis kecil itu semakin menutup matanya. Ia semakin terbawa kedalam mimpinya. Semakin dalam.

* * *

Pelayan kedai kopi tersebut sedang mengambil beberapa gelas kotor bekas tamu yang baru saja pergi, ketika ia melihat seorang gadis kecil terkulai lemas ditrotoar didepan kedai kopi tempat ia bekerja. Tanpa piker panjang, ia meletakkan kembali nampan yang berisi cangkir – cangkir bunga dan piring – piring kotor tersebut diatas meja, untuk kemudian lari menuju trotoar diseberang kedai .

“Dik… dik…” katanya sambil mencoba membangunkan si gadis kecil tersebut. Tidak lama kemudian, gadis itu sudah dikerumuni oleh banyak orang. Persis seperti waktu ia dan Ipon dulu masih sering duduk ditengah taman. Hanya bedanya, orang – orang yang mengerumuni tidak memberikan tepukan tangan atau senyuman puas. Melainkan rasa iba, air mata, serta rasa kasihan.

3 thoughts on “Gadis Kecil dan Ipon

  1. Kamu ngerti banged perasaan Ipon :p Jadi syedih…
    Siapakah Si Ibu tdk terceritakan secara Detil (bukan Wawa banged yg selalu detil :p )

    Wondering:
    Kenapa selalu Kedai kopi?

    1. aku ngerti sekali perasaan Ipon.. maksud yeiyyyy??? ;p. Kenapa kedai kopi, semua idenya berasal dari hasil gw duduk2 dan menyeruput kopi. Di kedai kopi yang depannya ‘S’ belakangnya ‘K’. Full answer-nya… hhh.. kapan yaa.. nanti laaahh.. makin bingung kan looo..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s