hari ke-4

AMANDA

Sudah hampir satu minggu ini, Amanda berdandan. Memoles wajahnya dengan make-up, memakai rok jenis pensil ke kantor, memadukan warna atasan dan bawahan, bahkan berani memakai terusan yang hanya dipadu padankan dengan blazer. Biasanya, Amanda sangat sederhana. Memakai celana palazzo dan kemeja dengan warna yang itu itu saja. Warna bukanlah sesuatu yang mengisi kehidupan Amanda. Baginya warna adalah hitam, putih dan coklat muda. Baginya warna hanya diperuntukkan kepada anak kecil bukan orang dewasa. Dan Amanda adalah orang dewasa. Tapi sekarang Amanda adalah orang dewasa yang seperti anak kecil.

Amanda juga tidak pernah memakai make-up. Krim pelembab di pagi hari dengan sedikit sentuhan bedak, sudah lebih dari cukup untuknya. Tetapi tidak untuk hampir seminggu ini. Amanda tidak pernah lupa untuk memoleskan alas bedak diwajahnya, memakai sedikit perona pipi, lipgloss berwarna merah muda. Bahkan Amanda rela untuk bangun setengah jam lebih awal, hanya untuk mem-blow dry rambutnya atau menyisirnya kebelakang agar tampak rapih. Amanda pun mulai memakai sepatu ber-hak tiga senti yang pernah dibeli tetapi tidak pernah satu kalipun ia pakai. Tidak biasanya dia begini. Bukan hanya ibunya, Amanda sendiripun heran akan perubahannya.

Hari ini Amanda memakai baju terusan dengan warna yang baru. Merah muda. Ya.. merah muda. Warna yang hampir tidak pernah dipakai Amanda dan yang satu minggu ini menggambarkan perasaan dan rona wajahnya. Sepatu hitam dengan hak yang tidak lebih dari 3 senti. Rambutnya pun tertata dengan amat rapih, karena dia bangun setengah jam lebih awal untuk menatanya.

Amanda juga memiliki kebiasaan baru. Menghabiskan waktu malamnya setelah pulang kantor di sebuah warung kopi. Tidak untuk memesan secangkir kopi atau sepiring keripik. Tetapi untuk untuk menemui seorang laki – laki. Laki – laki yang sudah hampir satu minggu ini membuat Amanda memakai pakaian yang berwarna, serta memakai sepatu ber-hak. Membuat Amanda bangun tiga puluh menit lebih pagi hanya untuk menata rambutnya. Laki – laki yang membuat Amanda memiliki kebiasaan baru, yaitu meminum secangkir kopi setiap hari di malam hari. Padahal Amanda selalu menyukai kopinya di pagi hari.

Laki – laki itu selalu datang tepat pada waktunya. Jam tujuh lewat lima belas. Dan Amanda selalu datang lima belas menit tepat sebelum laki – laki itu datang. Setiap kali laki – laki itu melewati pintu masuk warung kopi tersebut, saat itu juga mata Amanda akan berjalan mengikutinya sampai ia menemukan kursi dihadapannya. Kemudian menarik serta menduduki kursinya. Mata Amanda selalu setia mengikutinya.

Tidak ada yang istimewa dari laki – laki itu. Kecuali senyumnya yang menawan, badannya yang amat tinggi, sepatunya yang menkilat, kemejanya yang selalu rapih (terkadang dia juga memakai dasi dengan lengan bajunya yang dilipat), kulitnya yang sawo matang, rambutnya yang selalu tertata rapi, serta minuman yang itu itu saja yang selalu dipesannya. Yang lainnya, tidak ada nilai lebih. Tidak pernah terfikirkan oleh Amanda, bahwa ia akan menemukan laki – laki seperti itu. Sungguh beruntungnya aku, pikir Amanda.

Amanda tidak kuasa menahan jantungnya yang berdetak dan bekerja lebih keras ketika laki – laki itu memandangnya.  Memperhatikan Amanda dengan penuh seksama. Seolah – olah ia adalah wanita paling cantik didalam warung kopi ini. Tersenyum kepada Amanda seakan – akan mereka memiliki rahasia yang hanya diketahui oleh mereka berdua, dan orang lain tidak akan pernah tahu.

Amanda selalu menikmati saat dimana laki – laki itu menghirup cairan kopi dari cangkir kopi dihadapannya. Ketika bibirnya menyentuh ujung cangkir kopi bermotif bunga yang menjadi ciri khas dari warung kopi ini. Seakan – akan itu adalah cangkir kopi terakhir yang diminum oleh laki – laki itu. Ketika ia meletakkan kembali cangkir tersebut, kemudian diam sejenak untuk mengehela nafas, Amanda pun tak kuasa menahan aliran darah yang bergerak semakin cepat didalam tubuhnya. Membuat jantungnya berdetak lebih cepat pula.

Hari ini Amanda telah berjanji. Berjanji kepada Tuhan dan dirinya. Berjanji kepada Tuhan, karena Amanda dan laki – laki itu adalah makhluk Tuhan.  Karena kemurahan Tuhan, laki – laki paling sempurna itu tercipta. Jadi Amanda harus berterima kasih kepada Tuhan. Berterima kasih kepada diri sendiri, karena Amanda telah berjanji untuk memuaskan dirinya dengan laki – laki itu. Amanda sudah menyiapkan dirinya untuk itu. Amanda telah menunggu hampir seminggu, untuk berbicara dengan laki – laki itu untuk pertama kalinya. Amanda sudah siap.

LAKI – LAKI

Kalau bukan karena Wita, gak bakalan gue nyempetin ke Café ini. Mendingan gue pulang kerumah, mandi terus nonton film – film yang gue beli di ambas pas makan siang tadi. I mean.. come on.. mendingan gue nonton Sativa deeeh. It’s not about have to meet her tonight, tapi setiap kali kesini risih. Mana dia selalu ngajaknya kesini lagi. Entah kenapa, setiap kali kesini, wanita didepan gue selalu ngeliatin. Dari mulai gue masuk pintu café sampai duduk. Sampai gue ngobrol ditelpon pun, dia masih ngeliatin gue!! Gue berasa makan malam sama polisi.

Udah gitu dandanannya.. aduuuhh… shocking pink. Make-up serba pink semua. Memangnya dia nggak ngaca sebelum kekantor?

Oh.. my God. Ngapain dia??? Ya ampuuuun.. dia kesini.. eh.. eh.. kok.. ke meja gue. Waduuuh… aduuuhh..

Amanda dan Laki – laki

‘Halo….’ Kata Amanda sambil menjulurkan tangannya untuk mengajak laki – laki itu berjabat tangan.

‘Oh, halo…’ balas si laki – laki.

‘Saya Amanda.’

‘Oh..’

Tiba – tiba telpon genggam laki – laki itu berbunyi. Amanda menunggunya selesai berbicara sambil berdiri dihadapannya. Setelah selesai, laki – laki tersebut bangun dan langsung menuju kekasir dengan tergesa – gesa. Tanpa menghiraukan Amanda yang sedang bediri tepat dihadapannya.

***

‘Halo. Wit, kamu dimana?’

‘Haa.. Kamu nggak jadi ke warung kopi itu..??’

‘Kenapa ga kasih tau aku?. Hampir satu minggu aku nungguin kamu di warung kopi rekomendasi kamu itu, tapi satu kalipun kamu nggak pernah muncul.’

‘Kenapa sih?’

‘Bilang aja kalau nggak bisa atau nggak mau. Aku ngerti kok. Yang kita lakukan memang ada konsekuensinya.’

‘Iya. Dan aku bilang kan, kalau aku akan tanggung jawab. Aku yang akan bilang kesuamimu, kalau itu bukan anaknya.’

‘Wit.. halo.. witaa…’

Sialan. Diputus lagi. Sialan. Kucing – kucingan lagi gue sama dia. Sudah hampir lima tahun. Kapan selesainya…

8 thoughts on “hari ke-4

  1. waduh masih terlalu cepat tuk di tebak non…. ayo bikin yang agak complicated lagi. aq pernah baca cerita yang sperti ini soale, makanya kamu harus bikin dengan bumbu yang lain. aq yakin kamu tau apa saja bumbunya. sukses yagh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s