meraih mimpi

Akhirnya mereka datang. Para perempuan yang sudah lama sekali ingin kutemui. Tapi apa daya, atas nama kesibukan, kemacetan, serta berbagai alasan lain, baru sekarang hari yang kami sepakati. Setelahnya kami baru menyadari betapa waktu telah berlalu dan membuat lampau seperti baru. Padahal yang baru diantara kami hanya tambahan lekukan pada raut wajah, liku kehidupan, atau hanya sebuah tumpukan materi. Tetapi pasti ada sesuatu yang baru.

Ternyata tidak ada perubahan yang terlalu signifikan diantara mereka. A masih suka lalap. B masih suka ayam. C masih suka rendang. Dan saya, D, masih suka empal. Dan kami masih suka urap yang dimakan begitu saja. Tetapi kali ini kami memutuskan untuk mengenang masa dimana kami sekolah dulu. Restoran Perancis akhirnya menjadi pilihan bijaksana bagi kami.

Ketika appetizer ditempatkan diatas meja, dengan malu-malu kami mengambil sendok dan menyiduknya langsung kedalam mulut ketika A masih bercerita mengenai lancarnya usaha tas kulit yang sudah digeluti selama setengah dekade. Selain menimpali dan memuji kegigihannya, saya mulai bercerita mengenai karir yang semakin meninggi. Sementara C hanya terdiam sambil melihat jam. Di lain pihak, B berbicara mengenai mimpinya menjadi seorang konsultan independent. Karena sudah bukan waktunya lagi untuk ia tunduk pada sebuah kroni. Sudah waktunya B menciptakan kroninya. Tiba – tiba C meminta izin karena sudah waktunya untuk memompa air susu yang sudah tidak terbendung lagi. Selain itu agar rasa nyeri pada payudaranya segera pergi dan tidak kembali dalam waktu yang terbilang dini.

Kami melanjutkan percakapan, walaupun C masih asyik dengan pompa otomatis yang berfungsi untuk mengeluarkan air kehidupan untuk si buah hati dari payudaranya. Kala sajian utama disediakan, C kembali dengan wajah berseri karena kewajibannya telah tunai. Kewajiban yang selalu ia banggakan beberapa tahun terakhir kepada kami. Kewajiban yang selalu ia sarankan kepada kami untuk cepat mengembannya. Kewajiban sebagai ibu yang tanpa waktu.

C menunjukkan gambar ketika anaknya sudah mulai bisa tengkurap. Ketika anaknya sudah mulai bisa berdiri. Ketika A mulai memotong motong sayuran dan ikan menjadi porsi kecil agar mudah dilahap. Ketika coq au vin pesanan B akhirnya datang. Ketika saya mulai mengunyah dan menelan daging babi yang nikmat kedalam sistem pencernaan. C pun mulai melahap ikan dihadapannya, ketika suara si anak yang terekam di telepon selulernya mulai diperdengarkan kepada kami dan menjadi irama pengiring empat suap berikutnya. Empat suap kepura – puraan pertama dalam hidup saya. Empat suap dimana saya harus memaksakan senyum untuk menyukai celotehan anak kecil tersebut.

Setelah mengangkat piring – piring yang sudah tidak tersisa makanan lagi dari atas meja kami, sang pelayan menanyakan apakah kami mau memesan makanan manis untuk mencuci mulut. Saya tidak tahu apakah kemudian mulut kami akan menjadi bersih atau bahkan akan lebih berkelit dari sebelumnya. Tapi perut kami pasti akan senang menerima makanan manis sebagai tanda puas dan nikmat dari makan siang yang bergengsi ini. Seperti biasa saya memesan secangkir kopi, sementara A memesan cappuccino, B dan C memesan fruit pavlova.

Desert kami habiskan dalam waktu sepuluh menit. Entah kenapa kami sangat terburu – buru menghabiskan makanan – makanan manis tersebut. Padahal kami tidak dikejar oleh waktu ataupun hutang. Saya hanya ingin cepat keluar dari kepura – puraan. Saat si pelayan datang membawakan bon, kami berebut untuk menjadi pahlawan. Siapa yang berargumen paling keras, dialah juaranya. Calon konsultan yang kali ini menjadi pemenangnya. Kami mengucapkan selamat tinggal dan satu persatu mencium pipi kanan dan kiri.

Apakah kami akan bertemu kembali? Berkali – kali saya memikirkan itu dalam perjalanan pulang. Mungkin saja iya, mungkin juga tidak. Saya tidak tahu. Yang saya tahu, teman – teman saya sudah kembali kerutinitas.

A kembali kekantor dimana dia telah ditunggu oleh para pengacara untuk menuntaskan piutang yang telah menjeratnya beberapa tahun terakhir.

B harus kembali mencari muka beberapa kenalan dan atasan atas beberapa kecurangan laporan yang telah ia lakukan.

C harus kembali kerumah dan kembali kepada anak yang ia manjakan semenjak lahir. Baginya, menjadi ibu adalah keindahan tersalah yang pernah dilakukan.

Sementara saya harus segera kembali ke kantor. Dan membereskan meja kerja secepatnya. Karena hari ini saya dipecat. Karena uang kantor yang saya gelapkan terlacak oleh kantor. Maka saya dipecat secara tidak terhormat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s