setiap langkah kerumahmu dan supermarket

Kalau pergi ke supermarket adalah sama jauhnya dengan pergi ketempatmu, maka akan kulakukan. Butuh keberanian besar untuk melangkah keluar dari zona nyaman pekarangan rumahku untuk pergi ketempatmu ataupun ke supermarket. Tapi, seperti yang telah kukatakan sebelumnya akan kulakukan. Menyusuri jalan menuju kerumahmu ataupun supermarket sama tegangnya. Kalau saja sesampainya disana yang kulihat adalah kamu dengan orang lain atau chips yang kucari tidak ada, entah apa yang akan kulakukan. Padahal menikmati chips sambil nonton sangat ingin kulakukan. Begitu pula berbicara empat mata denganmu. Hanya denganmu. Tidak boleh ada tambahan yang lain. Tidak boleh ada biskuit. Harus chips.

Tetapi mungkin masih dirubah keinginanku. Entahlah… selama jalan ini belum sampai kepada tujuannya, pikiranku bisa saja berganti. Mungkin aku sudah tidak mau chips ataupun tidak mau lagi berbicara denganmu. Bisa saja aku menginginkan biskuit atau coklat atau bahkan es krim. Bisa saja aku hanya ingin melihatmu kemudian pergi atau melihatmu kemudian memelukmu atau bahkan memutar arah dan menjauh dari rumahmu. Aku tidak tahu apa yang kumau saat ini untuk nanti. Masih ada separuh jalan untuk memikirkan apa yang kumau nanti.

Sudah tiga per empat jalan kujalani, tetapi yang kumau masih tak menentu. Lebih baik aku berhenti dan menarik nafas terlebih dahulu. Daripada nanti masih tak menentu mengenai apa yang kumau dan nafasku habis sehingga otakku membeku dan tidak keruan. Bukannya mendapatkan hasil pikiran, malah menuai emosi hati. Apa jadinya kalau yang dituai adalah emosi hati, bisa – bisa lipatan halus diwajahku semakin dalam.

Tidak, tidak. Keputusan harus siambil.

Setiap langkah menuju akhir jalan kerumahmu, kunikmati setiap dentumannya. Mulai dari dentuman kaki yang berat terhadap aspal, hingga hati yang beremosi. Keduanya menggema ditelinga. Kenikmatan chips perisa keju sedikit meringankan gemanya, walau masih mengawang. Tetapi kembali menggema karena imajinasi akhir perjalanan kurangkai sendiri di otak kecil. Berikut juga biskuit coklat yang nikmat.
______________________________________________________________
chips dan biskuit kudapat. Sudah tandas bahkan kumakan dengan kelegaan dan amarah sebagai cairan pemuas dahaga. chips dan biskuit tampaknya dapat menggantikan bayangan sekuler ketika tiga langkah terakhir kuhentikan dan kuputar arahnya. Kuputar dan kuberjalan semakin jauh. Kuputuskan untuk memutar bukan karena dendam kesumat karena penolakanmu. Bukan juga karena aku terlalu sempurna. Tetapi karena harga diri yang semakin mahal dan melekat.

miss.wawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s