bukan maksud saya…

“Boleh saya minta tolong?”

“Boleh.”

“Dimana meja pendaftaran?”

Sambil menunjuk kesebelah kanan, saya menjawab, “disana.”
_____________________________________________________________

Saya harus makan lebih awal. Agar tidak terlalu mengikuti antrian yang panjang. Ataupun menunggu sampai sisa makanan terakhir dibawa kembali ke empunya. Semoga perut bisa kompromi mengenai jadwal makan belakangan ini.

“Hey, gadis penunjuk meja pendaftaran.”

Saya menolehkan kepala dan tersenyum. Apa maunya orang ini.

“Hey…”

“Cepat sekali antri makan siang?”

“Mmmm..iya.”

“Sudah sebegitu lapar?”

“Mmm…belum”

“Iya juga tidak masalah. Namanya juga urusan perut. Daripada dimarahi pencernaan karena kurang memproduksi enzim.”

Ada benarnya orang ini. Ah, sudahlah…memang saya lapar.

“Maaf, barusan hanya bercanda. Kamu bukan partisipan?”

“Bisa partisipan kalau saya mau. Tetapi saya memilih untuk duduk dan mempelajari sesuatu hal yang berhubungan dengan pekerjaan saya.”

“Oooo…baiklah. Tapi sekedar duduk bersama untuk makan siang, tidak apa-apa kan?”

“Silahkan.”

Dari duduk bersama untuk makan siang, tiba-tiba kami sudah duduk bersama kembali untuk secangkir kopi. Kemudian sepiring nasi dan sebotol bir di malam hari. Tertawa kembali keesokan pagi untuk sarapan sebelum konferensi dimulai. Setelah sekian lama, rasanya baru kali ini saya, mendengar tawa sendiri yang lepas tanpa beban. Baru kali ini beberapa botol bir tertenggak tanpa harus khawatir akan tipsy.
_____________________________________________________________

“Hey…gadis penunjuk meja pendaftaran.”

“Sepertinya nama saya akan berubah.”

Dia tertawa lepas.

“Kamu lucu.”

“Oke…saya anggap pujian kalau begitu.”

“Silahkan. Karena memang begitu.”

Saya tersenyum.

“Kamu…ada acara malam ini?”

“Belum ada. Kenapa?”

“Makan malam dengan saya, kalau boleh saya beri ide untuk kegiatan nanti malam.”

Kali ini saya yang tertawa lepas.

“Kamu tidak bosan menhabiskan tiga malam berturut-turut dengan saya?”

“Tidak sama sekali.”

Kali ini saya tidak tersenyum maupun tertawa. Tapi tertegun.

“Baiklah.”
_____________________________________________________________

Makan malam luar biasa. Entah suasana dari tempatnya atau memang perasaan menikmati kehadiran satu sama lain. Atau sebenarnya hal tersebut saling mendukung. Lebih dramatis lagi karena setelahnya kami habiskan ditepi pantai. Enta berapa botol bir sudah terminum, sekali lagi tanpa perasaan takut tipsy. Saya bercerita, dia bercerita. Sampai akhirnya bercengkerama.

Harusnya  diceritakan kalau ada seseorang yang sedang menunggu saya unruk pulang. Seseorang yang merindukan saya untuk kembali kepelukannya dengan utuh. Seseorang yang sudah saya janjikan untuk sehidup semati nantinya. Harusnya saya ceritakan itu. Bukan sesuatu hal yang bisa membuatnya merasa menunggu. Bukan juga sesuatu hal yang bisa membuatnya terbang kekota saya, kemudian melihat saya mengikat janji.

Bukan, bukan maksud saya untuk membuatnya pergi tanpa kembali dari kota ini.

miss.wawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s