dalam suatu waktu

Suatu ketika lelaki datang dengan segelas minuman. Ketika itu perempuan meladeni lelaki dengan sebuah kewajaran. Seketika itu mereka berbicara dan bercanda. Seketika itu mereka tersenyum dan menanti malam berikutnya.

Malam itu, mereka menelusuri jalan ibukota untuk menyimpan sebuah senyum didalam alam bawah sadar.

Malam berikutnya mereka bertemu. Tidak bertatap muka. Karena waktu dan jarak didalam kota yang tidak memungkinkan. Mereka bertemu melalui jaringan media sosial. Mereka bercanda melaui jaringan komunikasi seluler. Mereka berbicara untuk merencanakan tatap muka.

Pertemuan demi pertemuan untuk bertatap muka terjadi. Untuk melihat sebuah karya manusia dalam layar lebar. Untuk mencicipi kaya rasa kuliner di sebuah restoran ataupun menikmati campuran rasa minuman di berbagai bar. Pertemuan terjadi walau hanya untuk menikmati percakapan sederhana dan secangkir kopi serta sepiring kue.

Mereka tertawa. Mereka bertengkar. Mereka berdiskusi. Mereka bersolusi.

Semuanya berjalan dengan semestinya. Sampai satu menyadari bahwa rutinitas sudah tidak menjadi rutinitas. Satu menyadari bahwa rutinitas sudah tidak lagi menjadi daya tarik. Satu mencoba untuk merubahnya dan memberikan plot agar menarik kembali. Yang lainnya merasa terlalu berlebihan dan memutuskan untuk tidak menjalani rutinitas. Perempuan kembali dengan rima kehidupannya seperti dahulu. Lelaki kembali dengan alur rutinitasnya seperti dahulu.

~WA~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s